Rabu, 02 Mei 2012

Pengaruh Unsur Hara

PENGARUH UNSUR HARA

Alief Ashar
I 311 07 022


LABORATORIUM TANAMAN MAKANAN TERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
 MAKASSAR
2011


                                                                    PENDAHULUAN

Latar Belakang
           Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Tanah yang baik adalah tanah yang mengandung unsur hara yang cukup. Dimana unsur hara merupakan kandungan yang dibutuhkan oleh tanah baik dalam jumlah banyak maupun sedikit.
            Unsur hara yang diberikan kepada tanaman, sangat penting untuk dijaga keseimbangannya. Dosis  yang diberikan harus tepat dengan kadar yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut. Sama halnya pada rumput gajah yang membutuhkan unsur hara yang seimbang pada pertumbuhannya.
Tanaman sangat di pengaruhi oleh unsur hara yang di berikan. Perbedaan unsur hara yang diberikan juga mempengaruhi tingakat pertumbuhan tanaman. Pada pemberian unsur hara yakni berupa pupuk, harus disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut. Pengetahuan tentang jenis pupuk yang baik untuk tanaman sangat penting untuk diketahui. Hal inilah yang melatarbelakangi sehingga praktikum Tanaman Makanan Ternak mengenai Pengaruh Unsur Hara ini dilakukan.

Tujuan dan Kegunaan  
 
         Tujuan dari praktikum Tanaman Makanan Ternak mengenai Pengaruh Unsur Hara terhadap Tingkat Pertumbuhan Tanaman adalah untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan tanaman Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)  yang diberi berbagai jenis pupuk.
Kegunaan dari praktikum Tanaman Makanan Ternak adalah agar praktikan mampu mengetahui Pengaruh Pertumbuhan tanaman Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) yang diberi berbagai jenis pupuk.


                                                        TINJAUAN PUSTAKA

A. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) Sebagai Tanaman Makanan Ternak
               Rumput Gajah ( Pennisetum purpureum) atau disebut juga rumput napier, merupakan salah satu jenis hijauan pakan ternak yang berkualitas dan disukai ternak. Rumput gajah dapat hidup diberbagai tempat (0 – 3000 dpl), tahan lindungan, respon terhadap pemupukan, serta menghendaki tingkat kesuburan tanah yang tinggi (Muda, 2008).

Menurut Anonim (2010). Rumput Gajah, memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi     : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas              : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas        : Commelinidae
Ordo               : Poales
Famili               : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus              : Pennisetum
Spesies            : Pennisetum purpureum


           Berasal dari Afrika tropika, kemudian menyebar dan diperkenalkan ke daerah daerah tropika di dunia, dan tumbuh alami di seluruh Asia Tenggara yang bercurah hujan melebihi 1.000 mm dan tidak ada musim panas yang panjang. Dikembangkan terus menerus dengan berbagai silangan sehingga menghasilkan banyak kultivar, terutama di Amerika, Philippine dan India (Anonim, 2005).

            Rumput gajah merupakan keluarga rumput rumputan (graminae ) yang telah dikenal manfaatnya sebagai pakan ternak pemamah biak (Ruminansia) yang alamiah di Asia Tenggara. Rumput ini biasanya dipanen dengan cara membabat seluruh pohonnya lalu diberikan langsung (cut and carry) sebagai pakan hijauan untuk kerbau dan sapi, atau dapat juga dijadikan persediaan pakan melalui proses pengawetan pakan hijauan dengan cara silase dan hay. Selain itu rumput gajah juga bisa dimanfaatkan sebagai mulsa tanah yang baik (Anonim, 2010).

           Pennisetum purpureum termasuk tanaman rumput berumur panjang, tumbuh pertikal membentuk rumpun, daun lebat, dan bisa mencapai tinggi 2-2,5 m. Produksi rata-rata sekitar 250 ton/Ha/tahun. Rumput ini baik sebagai bahan silage, dan sebagai rumput potongan ataupun gembala, asal petumbuhannya bisa dipertahankan pendek-pendek (AAK, 1983).

           Nilai pakan rumput gajah dipengaruhi oleh perbandingan (rasio) jumlah daun terhadap batang dan umurnya. Kandungan nitrogen dari hasil panen yang diadakan secara teratur berkisar antara 2-4% Protein Kasar (CP; Crude Protein) selalu diatas 7% untuk varietas Taiwan, semakin tua CP semakin menurun)
pada daun muda nilai ketercernaan (TDN) diperkirakan mencapai 70%, tetapi angka ini menurun cukup drastis pada usia tua hingga 55%. (Anonim, 2005).

           Rumput gajah dibudidayakan dengan potongan batang (stek) atau sobekan rumpun (pous) sebagai bibit. Bahan stek berasal dari batang yang sehat dan tua, dengan panjang stek 20 – 25 cm (2 – 3 ruas atau paling sedikit 2 buku atau mata). Pemotongan pada waktu penanaman ruas mata dapat Untuk bibit yang berasal dari sobekan rumpun/ anakan (pous) sebaiknya berasal dari rumpun yang sehat, banyak mengandung akar dan calon anakan baru. Sebelum penanaman bagian vegetatif dari sobekan rumpun dipangkas terlebih dahulu untuk menghindari penguapan yang tinggi sebelum sistem perakaran dapat aktif menghisap air (Muda, 2008).

B. Pengaruh Unsur Hara dan Nilai Gizi Terhadap Tanaman
            Setiap jenis unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, tentunya memiliki fungsi, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dalam memberikan unsur hara pada tanaman tentunya sangat penting dijaga keseimbangan dan pengaturan kadar pemberian unsur hara tersebut, sebab jika kelebihan dalam pemberiannya akan tidak baik dampaknya, demikian pula halnya jika yang diberikan tersebut kurang dari takaran yang semestinya diberikan (Anonim, 2010)

           Unsur Hara makro maupun mikro walaupun berbeda dalam jumlah kebutuhanya, namun dalam fungsi pada tanaman, masing-masing unsur sama pentingnya dan tidak bisa digantikan satu sama lain. Kalau diilustrasikan ibarat roda mobil dengan setir /kemudi.dalam junlah kebutuhan, roda dibutuhkan lebih banyak daripada kemudi,namun dari segi kepentinganya, roda tidak dapat mengalahakan kemudi. Dalam hal ini unsur hara mempunyai fungsi dan peran khusus sendiri-sendiri terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga ketika terjadi kekurangan salah satu dari unsur hara tersebut maka akan mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Anonim, 2008).

Menurut Anonim (2007a), yang menyatakan bahwa fungsi unsur hara Nitrogen, Fosfor dan Kalium yakni sebagai berikut :
Nitrogen (N)
Fungsi Nitrogen bagi tanaman adalah:
  • Diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetatif tanaman, seperti daun, batang dan akar.
  • Berperan penting dalam hal pembentukan hijau daun yang berguna sekali dalam proses fotosintesis.
  • Membentuk protein, lemak dan berbagai persenyawaan organik.
  • Meningkatkan mutu tanaman penghasil daun-daunan.
  • Meningkatkan perkembangbiakan mikro-organisme di dalam tanah.
Fosfor (P)
Fungsi dari Fosfor (P) dalam tanaman dapat dinyatakan sebagai berikut :
  •  Merangsang pertumbuhan akar, khususnya akar benih/tanaman muda.
  • Mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa dan menaikkan prosentase bunga menjadi buah/biji.
  • Membantu asimilasi dan pernafasan sekaligus mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah.
  • Sebagai bahan mentah untuk pembentukan sejumlah protein tertentu.
Kalium (K)
Fungsi Kalium bagi tanaman adalah :
  • Membantu pembentukan protein dan karbohidrat.
  • Berperan memperkuat tubuh tanaman, mengeraskan jerami dan bagian kayu tanaman, agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur.
  • Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan penyakit.
  • Meningkatkan mutu dari biji/buah.

C. Pengaruh Pemberian Pupuk Terhadap Produktifitas dan Kualitas Hijauan

           Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen (Hanafiah, 2004).

           Pertumbuhan tanaman juga dapat dipengaruhi oleh pupuk, baik pupuk organik maupun anorganik, keduanya dapat menyuburkan dan membantu perkembangan tanaman. Pupuk banyak mengandung nutrisi dan bila kekurangan unsur tersebut, daun akan berwarna kuning atau keunguan, berukuran kecil, dan menghambat pembentukan klorofil. (Anonim, 2007b).

          Terdapat dua kelompok pupuk berdasarkan kandungan: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal mengandung hanya satu unsur, sedangkan pupuk majemuk paling tidak mengandung dua unsur yang diperlukan. Terdapat pula pengelompokan yang disebut pupuk mikro, karena mengandung hara mikro (micronutrients). Beberapa merek pupuk majemuk modern sekarang juga diberi campuran zat pengatur tumbuh atau zat lainnya untuk meningkatkan efektivitas penyerapan hara yang diberikan (Lingga, 1986).

Menurut Anonim (2007c), yang menyatakan bahwa pemupukan melalui akar terbagi atas tiga cara yakni :
  • Disebar (broad casting)
        Pupuk yang disebarkan merata pada tanah-tanah di sekitar pertanaman atau pada waktu pembajakan/penggaruan terakhir, sehari sebelum tanam, kemudian diinjak-injak agar pupuk masuk ke dalam tanah.
  • Ditempatkan di antara larikan/barisan
        Pupuk ditaburkan di antara larikan tanaman dan kemudian ditutup kembali dengan tanah. Untuk tanaman tahunan ditaburkan melingkari tanaman dengan jarak tegak lurus daun terjauh (tajuk daun) dan ditutup kembali dengan tanah.
  • Ditempatkan dalam lubang
        Pupuk dibenamkan ke dalam lubang di samping batang sejauh kurang lebih 10 cm dan ditutup dengan tanah. Untuk tanaman tahunan pupuk dibenamkan ke dalam lubang pupuk yang melingkari tanaman dengan jarak tegak lurus dan terjauh (tajuk daun) dan ditutup kembali dengan tanah. Cara ini dilakukan dengan pertimbangan sama dengan cara larikan/barisan.

D. Cara-Cara Menanam Rumput
a. Menanam rumput dengan biji
            Cara-cara penanaman secara umum yaitu ada dua cara yaitu larikan dan disebar. Penanaman biji dengan larikan biasanya di lakukan pada suatu areal yang sempit dengan tenaga cukup, sedangkan penanaman biji dengan cara disebar biasanya dilakukan pada suatu areal yang luas dengan tenaga terbatas, atau pada tanah  miring dimana kemungkinan terjadi erosi yang lebih besar  (AAK, 1983).

b. Menanam rumput dengan pols atau sobekan
             Pols adalah sobekan rumput. Pola yang baik diperoleh dari sobekan rumput yang sehat, mengandung banyak akar dan calon anakan baru (barisan tepi). Tanaman rumput yan ditanam dengan bahan pols, bagian vegetatifnya harus dipotong. Hal ini dimaksudkan agar tanaman baru ini tidak terlampau banyak penguapan, sebelum pengakaran bisa aktif menghisap air (AAK, 1983).   
c. Penanaman rumput dengan stek
               Stek adalah potongan batang. Stek yang baik adala diperoleh dari batang yang sehat, tua, setiap stek panjangnya 20-25 cm, minimal mengandung dua buku, cara memotong stek harus betul. Cara penanaman stek adalah bagian bawah harus masuk kedalam tanah dengan baik sebab akan tumbuh akar, kedudukan bisa ditanam tegak, miring, tetapi pada umumnya stek tegak sebab pelaksanaan dalam penanaman lebih mudah. Pada setiap tempat penanaman, bisa ditahan dua atau tiga stek, setelah ditanam ditekan rapat pada steknya supaya tidak mudah rebah dan tidak kering sehingga calon akarnyapun bisa dengan mudah kontak tanah (AAK, 1983).

E. Pengaruh Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman
             Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan interaksi antara faktor genetika dan lingkungan. Pengelolaan system budidaya suatau tanaman merupakan suatu sistem manipulasi yang dilakukan agar faktor genetika melalui pemilihan varietas dan pengolahan lingkungan melalui perbaikan cara bercocok tanam seperti pengolahan tanah, pemupukan, pengairan dan sebagainya merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi tanaman secara optimal (Anonim, 2007b).

              Komponen tanah terdiri dari bahan padatan (mineral dan bahan organik), air dan udara. Masing-masing komponen tanah tersebut berperan penting dalam menunjang fungsi tanah sebagai media tumbuh, sehingga variabilitas keempat komponen tanah ini akan berdampak terhadap variabilitas fungsi tanah sebagai media tumbuh (Hanafiah, 2004).

              Bahan organik dalam tanah merupakan kerangka tubuh tanah sehingga sangat menentukan sifat-sifat fisis dan kimia tanah. Penambahan humus ke dalam tanah berarti menambah bahan organik dalam tanah dan akan merubah keadaan tanah dengan cepat (Anonim, 2007b).
Air tanah berfungsi sebagai komonen utama tubuh tetanaman dan biota tanah. Sebagian besar ketersediaan dan penyerapan hara oleh tanaman dimediasi oleh air, malah unsur-unsur mobil seperti N, K dan Ca dominan diserap tanaman melalui batuan mekanisme aliran massa air, baik ke permukaan akar maupun transportasi ke daun (Hanafiah, 2004).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar